ANALISA KESTABILAN LERENG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM
SLIDE VERSI 5.0 DI PT. INDO BUMI
NICKEL KECAMATAN WASILE
KABUPATEN HALMAHERA TIMUR PROVINSI MALUKU
UTARA
SKRIPSI
OLEH :
KHOMSUN ARIFIN
12105
31201 10 102
PROGRAM
STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA
TERNATE
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang.
Permukaan
tanah yang tidak selalu membentuk bidang datar atau mempunyai perbedaan elevasi
antara tempat yang satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu lereng (slope). Perbedaan elevasi tersebut pada
kondisi tertentu dapat menimbulkan kelongsoran lereng sehingga dibutuhkan suatu
analisis stabilitas lereng. Analisis stabilitas lereng mempunyai peran sangat
penting pada suatu penambangan sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan oleh perusahaan. Kondisi tanah asli atau batuan yang tidak selalu
sesuai dengan perencanaan yang diinginkan misalnya lereng yang terlalu curam
sehingga dilakukan pemotongan bukit atau kondisi yang lain yang membutuhkan
penanganan dengan baik.sehingga diperlukan analisis stabilitas lereng yang
lebih akurat agar diperoleh faktor keamanan yang baik (saifuddin arief,2008)
Untuk
mendapatkan suatu nilai factor keamanan yang minimum dari suatu analisis kestabilan lereng
memerlukan suatu proses coba-coba (trial and error). Pada proses trial and
error yang dilakukan secara manual akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan
diperlukan ketelitian. Proses analisis yang cukup lama dan kurang akurat inilah
yang melatar belakangi pembuatan sebuah program (Software) analisis kestabilan lereng. Dengan program ini diharapkan
dapat mempercepat proses analisis tersebut dan hasil perhitungan factor
keamanan yang didapatkan lebih akurat.
Dari uraian tersebut diatas peneliti tertarik
melakukan penelitian Tugas Ahir dengan judul “ANALISIS KESTABILAN LERENG
DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SLIDE VERSI 5.0 DI PT. INDO BUMI
NICKEL KECAMATAN WASILE
KABUPATEN HALMAHERA TIMUR PROVINSI
MALUKU UTARA”.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang diatas maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Analisis kestabilan lereng menggunakan bidang busur dengan menggunakan metode irisan.
2. Merancang
suatu lereng yang optimal dan memenuhi kriteria keamanan dan kelayakan dengan
menggunakan program Slide v.5.0
1.3
BATASAN
MASALAH
Pada
penelitian ini, asumsi-asumsi yang digunakan dalam perencanaan stabilitas
lereng adalah Kelongsoran lereng dianggap terjadi pada permukaan bidang
tertentu dengan model dua dimensi dan Bidang longsoran yang ditinjau berbentuk
rotasi atau lingkaran dengan menggunakan
metode irisan.
1.4
TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui
analisis ketabilan lereng yang sesuai dengan kondisi lapangan dengan bidang busur dengan menggunakan metode irisan.
2.
Dapat merancang lereng
yang optimal dan memenuhi kriteria keamanan dan kelayakan dengan program Slide v.5.0
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1.Lokasi
dan Kesampaian Daerah
Secara umum lokasi penelitian yaitu di PT. INDO BUMI NICKEL (IBN)
terletak di Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara, Secara geografis areal kabupaten
Halmahera timur berada pada 1o10`00``LU
dan 128o15`00`` BT,. Untuk mencapai lokasi
penelitian dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut :
- Ternate - Sofifi
Ternate – Sofifi dengan menggunakan speed boat dengan waktu tempuh kurang
lebih 1 jam atau dengan menggunakan fery
dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.
- Sofifi – Wasile
Sofifi
– wasile ditempuh dengan
menggunakan jalan darat kendaraan roda
dua ataupun roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.
- Wasile – PT. INDO BUMI NICKEL
Wasile ke PT. INDO BUMI NICKEL dengan menggunakan
kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh ± 10 menit.
Dari Sofifi ke lokasi penelitian Bisa juga dengan
menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua langsung ke lokasi penelitian
dengan waktu yang ditempuh +6
jam dari sofifi.
2.2.Geologi Regional Pulau
Halmahera Timur
2.2.1.
Topografi
Lokasi penelitian terdiri dari beberapa punggungan yang
dipisahkan oleh alur. Topografi landai terdapat pada puncak perbukitan.
Kemiringan lerang semakin terjal apabila mendekati garis daerah pantai. Di
sekitar daerah pantai sampai ke garis pantai topografi sudah sangat landai. Di
dekat punggungan kemiringan lereng bervariasi mulai dari 0 - 45°, sedangkan
kemiringan lereng pada daerah yang mendekati pantai bervariasi antara 45 - 80°.
Pada daerah di sekitar garis pantai kemiringan lereng di bawah 10°.
2.2.2. Stratigrafi
Menurut Apandi
& Sudana (1980), Pulau Halmahera dibagi menjadi 2 (dua) mendala geologi
utama, yaitu: mendala geologi Halmahera Timur dan mendala geologi Halmahera
Barat. Mendala
geologi Halmahera Timur terbentuk oleh satuan batuan ultrabasa yang sebarannya
cukup luas dan satuan batuan beku yang mengintrusi satuan batuan ultrabasa
serta batuan beku intermediate yang mengintrusi kedua satuan batuan
sebelumnya.
Setelah rumpang pengendapan Eosen Akhir
hingga Oligosen Awal kegiatan gunung api terjadi selama Oligosen Atas – Miosen
Bawah. Batuan gunung api formasi Bacan ini terhampar luas di mendala Halmahera
Timur dan mendala Halmahera Barat, bersamaan dengan itu terbentuk pula batuan
karbonat. Terdapat cekungan yang cukup luas berkembang sejak Miosen Atas –
Pliosen, dimana di dalam cekungan tersebut terdapat batupasir berselingan
dengan napal, tufa, konglomerat yang membentuk formasi Weda dan batuan karbonat
yang membentuk Formasi Tingteng. Pada zaman terjadi pengangkatan sebagaimana
yang ditunjukan oleh batugamping terumbu di pantai daerah lengan Timur Pulau Halmahera.
Batuan tertua yang terdapat di mendala
Halmahera Barat berupa gunung api berumur Oligo-Miosen, di daerah ini terdapat
batuan sedimen dan karbonat berumur Miosen – Pliosen yang sebarannya cukup
luas. Pada umumnya batuan sedimen pada mendala ini bersifat tufaan.
Batuan Sedimen
Satuan Batugamping
Berwarna
putih dan kelabu, umumnya pejal, setempat berlapis baik mengandung fosil Discocyclina
spb., Amphistegina sp, dan koral. Ketebalan formasi ini ± 400m dan berumur Paleosen –
Eosen.
Batupasir
berselingan dengan serpih merah dan batugamping. Batupasir berwarna kelabu,
kuning, kompak, dan berbutir halus. Batugamping berwarna kelabu, kompak,
berkomponen batuan ultrabasa. Serpih berwarna merah berlapis baik. Batugamping
mengandung fosil Nummulites sp. Formasi ini memiliki ketebalan ± 250 m
dan berumur Paleosen – Eosen.
Formasi
Tingteng (Tmpt)
Tersusun oleh batugamping hablur dan
batugamping pasiran dengan sisipan napal dan batupasir. Batugamping hablur,
putih kekuningan, dan coklat muda, berlapis baik. Batugamping pasiran, kelabu,
dan coklat muda, sebagian kompak. Ketebalan formasi ini ± 600 m berumur Akhir
Miosen – Awal Pliosen. Setelah pengendapan Formasi Tingteng terjadi
pengangkatan pada umur Kuarter, sebagaimana ditunjukan oleh batugamping terumbu
di pantai lengan Timur Pulau Halmahera.
Formasi Weda (Tmpw)
Terdapat batupasir berselingan dengan
napal, tufa, konglomerat, dan batu gamping. Batupasir kelabu sampai coklat
muda, kompak, berbutir halus sampai kasar. Napal berwarna putih, kelabu
kehijauan, dan coklat, getas. Tufa berwarna putih dan kuning, getas, berbutir
halus sampai kasar, dan berlapis baik. Konglomerat berwarna kelabu dan coklat,
kompak, berkomponen andesit piroksen. Ketebalan formasi ini ± 300 m dan berumur
Miosen Tengah – Awal Pliosen, diendapkan pada lingkungan neritik – batial.
Batugamping Terumbu (Ql)
Batugamping koral dan breksi
batugamping. Batugamping koral berwarna putih dan coklat, sebagian kompak,
bagian yang paling bawah mengandung konglomerat berkomponen batuan ultrabasa,
gabro, dan diorit. Breksi
batugamping, coklat, sebagian padat. Ketebalan satuan batuan ini ± 150 m.
Endapan Permukaan
Aluvium dan Endapan
pantai (Qa)
Terdapat lempung,
lanau, pasir, dan kerikil. Pada umumnya terdapat di lembah sungai yang besar
dan di beberapa daerah sepanjang pantai.
Batuan Gunung Api
Formasi Kayasa (Qpk)
Berupa batuan
gunung api yang terdiri dari breksi, lava, dan tufa. Breksi berwarna kelabu
tua, kompak, bersusunan basalt dengan masa dasar pasir dan banyak mengandung
piroksen. Lava bersifat basalt, berwarna kelabu tua, setempat berkekar melapis.
Tufa berwarna putih kekuningan, kompak, berbutir sedang sampai kasar, setempat
mengandung batuapung. Formasi ini berumur Pliosen.
BatuanBeku
Batuan
Ultrabasa (Ub)
Batuan
ultrabasa berupa serpentinit, piroksenit, dan dunit, berwarna hitam, getas,
kebanyakan pecah, terbreksikan, setempat mengandung asbes dan garnierit. Satuan
ini dinamakan Formasi Watileo.
Diorit (Di)
Diorit
kuarsa dan diorite hornblende tersingkap di daerah komplek batuan ultrabasa.

Gambar 2.2
Peta geologi regional daerah penelitian
2.2.3. Vegetasi
Secara umum vegetasi yang tumbuh di lokasi
penelitian adalah relatif sama dengan vegetasi yang tumbuh di Halmahera dan
sekitarnya. Jika dilihat secara vertikal komunitas
vegetasi yang tumbuh di daerah penelitian dapat dibagi dalam tiga komunitas,
yakni komunitas vegetasi hutan pantai, komunitas hutan mangrove
(bakau) yaitu daerah endapan lumpur dan pasir, serta komunitas vegetasi hutan
daratan (pegunungan) yaitu pada kondisi tanah yang banyak mengandung mineral
logam seperti Al dan Ni.
Vegetasi hutan pantai menempati hampir seluruh garis
pantai daerah penelitian, vegetasi yang ada merupakan asosiasi pohon ketapang,
pandan, kelapa dan nyamplung. Pohon kelapa cukup dominan dikawasan ini, hanya
pada tempat-tempat tertentu yang tidak memungkinkan dibudidayakan tanaman
kelapa, ditumbuhi tanaman ketapang, pandan dan nyamplung.
Komunitas
vegetasi daerah mangrove terdiri dari tumbuhan bakau jenis rhizopora stylosa,
rhizopora mucranata, bruguiera sp, dan xylocarpus granatum. Sedangkan vegetasi hutan daratan (pegunungan) disusun oleh sebagian
vegetasi yang ada di Pulau Halmahera dan
sekitarnya. Pada bagian punggungan gunung, vegetasi
yang ada merupakan asosiasi jenis tumbuh-tumbuhan berdaun jarumseperti gaharu,
linggua, kayu kina, bintang samudra, kenari hutan, kayubesi, bintagor,
cemara, pinus Irian, dan sebagian kecil tumbuhan yang berdaun lebar. Pada vegetasi ini juga terdapat tumbuhan bawah yang terdiri
dari tanaman pandan, rumput-rumputan, alang-alang, dan sejenis liana daun
lebar.
Tumbuhan bawah yakni tumbuhan tidak berkayu merupakan
salah satu tumbuhan penyusun vegetasi kawasan ini juga dibedakan menjadi dua
bagian. Pada daerah punggungan gunung, tumbuhan bawah yang hidup adalah jenis
pakis, pinang, kantong semar, anggrek, dan
bunga delima. Sedangkan pada daerah yang lembab, tumbuhan bawah yang hidup
adalah rotan, pandan hutan, jenis anggrek pinang, dan sebagian jenis
rumput-rumputan.

Gambar 2.3.
vegetasi lokasi penelitian
2.3.
Iklim
Dan Curah Hujan
Daerah penelitian terletak di daerah garis khatulistiwa yang beriklim
tropis dengan 2 (dua) musim yaitu musim hujan dan kemarau. Suhu udara sangat panas di siang hari karena daerah ini
sangat berdekatan dengan laut. Temperatur
udara rata-rata 28 oC dan
kelembaban udara rata-rata 82.5 % serta intensitas penyinaran matahari
rata-rata 61.3%. Kecepatan angin
per-jam maksimal 17 knot dengan tinggi gelombang laut maksimal 2 m, terjadi
pada waktu angin bertiup dari arah barat ke arah timur.
Tabel 2.
1.
curah hujan
|
|||||||||
NO
|
HARI
|
TANGGAL
|
JAM HUJAN (
WIT )
|
VOLUME
|
JAM
|
KETERANGAN
|
|||
GERIMIS
|
DERAS
|
mm/m2
|
PENGUKURAN
|
CHECKER
|
|||||
1
|
SELASA
|
01-April-14
|
15:00-16:00
|
4,00
|
7:00:00
|
SEA
|
|||
2
|
KAMIS
|
03-April-14
|
15:30-16:00
|
11,00
|
16:30:00
|
SEA
|
|||
3
|
JUMAT
|
04-April-14
|
14:15-15:00
|
4,00
|
16:30:00
|
SEA
|
|||
4
|
SABTU
|
05-april-14
|
15:20-16:00
|
5,50
|
16:05:00
|
SEA
|
|||
5
|
MINGGU
|
06-april14
|
21:15-22:00
|
20,50
|
8:00:00
|
SEA
|
|||
6
|
SENIN
|
07-april-14
|
15:30-17:00
|
3,50
|
7:00:00
|
SEA
|
|||
7
|
RABU
|
09-april-14
|
12:30-14:55
|
25,00
|
7:00:00
|
M.YAMIN
|
|||
8
|
KAMIS
|
10-april-14
|
14:00-15:00
|
6,00
|
16:30:00
|
M.YAMIN
|
|||
9
|
JUMAT
|
11-april-14
|
04:30-05:15
|
8,00
|
7:00:00
|
M.YAMIN
|
|||
10
|
SABTU
|
12-april-14
|
04:00-05:00
|
5,50
|
7:15:00
|
M.YAMIN
|
|||
11
|
SENIN
|
14-april14
|
21:00-22:30
|
4,00
|
23:00:00
|
SEA
|
|||
12
|
SELASA
|
15-april-14
|
16:10-17:00
|
25,00
|
17:00:00
|
M.YAMIN
|
|||
13
|
RABU
|
16-april14
|
17:15-18:10
|
2,00
|
7:00:00
|
SEA
|
|||
14
|
SABTU
|
19-april-14
|
10:30-12:00
|
4,50
|
14:00:00
|
SEA
|
|||
15
|
JUMATMJM
|
20-april-14
|
15:35-16:10
|
3,50
|
16:50:00
|
SEA
|
|||
16
|
SENIN
|
21-april14
|
16:30-17:00
|
18,50
|
8:30:00
|
SEA
|
|||
17
|
SELASA
|
22-april-14
|
13:30-15:20
|
13,00
|
16:00:00
|
SEA
|
|||
18
|
RABU
|
23-april-14
|
02:00-02:30
|
9,50
|
8:00:00
|
SEA
|
|||
19
|
KAMIS
|
24-april-14
|
05:30-06:00
|
2,50
|
9:00:00
|
SEA
|
|||
20
|
MINGGU
|
27-april-14
|
22:15-23:30
|
20,00
|
7:00:00
|
SEA
|
|||
21
|
SENIN
|
28-april-14
|
04:15-04:50
|
4,50
|
7:00:00
|
SEA
|
|||
22
|
RABU
|
30-april-14
|
03:30-12:00
|
8,50
|
7:00:00
|
SEA
|
|||
Rata-rata
|
9.48
|
||||||||
Maximal
|
25.00
|
||||||||
PT. INDO BUMI NICKEL
|
: TGL 01-30 April 2014
|
||||||||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar