Kamis, 09 Oktober 2014


ANALISA KESTABILAN LERENG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SLIDE VERSI 5.0 DI PT. INDO BUMI NICKEL KECAMATAN WASILE KABUPATEN HALMAHERA                         TIMUR PROVINSI MALUKU UTARA
SKRIPSI


OLEH :



KHOMSUN ARIFIN
12105 31201 10 102











PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA
TERNATE
2014

 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang.
Permukaan tanah yang tidak selalu membentuk bidang datar atau mempunyai perbedaan elevasi antara tempat yang satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu lereng (slope). Perbedaan elevasi tersebut pada kondisi tertentu dapat menimbulkan kelongsoran lereng sehingga dibutuhkan suatu analisis stabilitas lereng. Analisis stabilitas lereng mempunyai peran sangat penting pada suatu penambangan sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh perusahaan. Kondisi tanah asli atau batuan yang tidak selalu sesuai dengan perencanaan yang diinginkan misalnya lereng yang terlalu curam sehingga dilakukan pemotongan bukit atau kondisi yang lain yang membutuhkan penanganan dengan baik.sehingga diperlukan analisis stabilitas lereng yang lebih akurat agar diperoleh faktor keamanan yang baik (saifuddin arief,2008)
Untuk mendapatkan suatu nilai factor keamanan yang minimum  dari suatu analisis kestabilan lereng memerlukan suatu proses coba-coba (trial and error). Pada proses trial and error yang dilakukan secara manual akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan diperlukan ketelitian. Proses analisis yang cukup lama dan kurang akurat inilah yang melatar belakangi pembuatan sebuah program (Software) analisis kestabilan lereng. Dengan program ini diharapkan dapat mempercepat proses analisis tersebut dan hasil perhitungan factor keamanan yang didapatkan lebih akurat.
Dari  uraian tersebut diatas peneliti tertarik melakukan penelitian Tugas Ahir dengan judul “ANALISIS KESTABILAN LERENG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SLIDE VERSI 5.0 DI PT. INDO BUMI NICKEL KECAMATAN WASILE KABUPATEN HALMAHERA TIMUR PROVINSI MALUKU UTARA”.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    Analisis kestabilan lereng menggunakan bidang busur dengan menggunakan metode irisan.
2.    Merancang suatu lereng yang optimal dan memenuhi kriteria keamanan dan kelayakan dengan menggunakan program Slide v.5.0

1.3         BATASAN MASALAH
Pada penelitian ini, asumsi-asumsi yang digunakan dalam perencanaan stabilitas lereng adalah Kelongsoran lereng dianggap terjadi pada permukaan bidang tertentu dengan model dua dimensi dan Bidang longsoran yang ditinjau berbentuk rotasi atau lingkaran dengan menggunakan metode irisan.

1.4         TUJUAN  PENELITIAN
1.    Untuk mengetahui analisis ketabilan lereng yang sesuai dengan kondisi lapangan dengan bidang busur dengan menggunakan metode irisan.
2.   Dapat merancang lereng yang optimal dan memenuhi kriteria keamanan dan kelayakan dengan program Slide v.5.0

BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1.Lokasi dan Kesampaian Daerah
Secara umum lokasi penelitian yaitu di PT. INDO BUMI NICKEL (IBN) terletak di Kabupaten Halmahera Timur Provinsi Maluku Utara, Secara geografis areal kabupaten Halmahera timur berada pada 1o10`00``LU dan 128o15`00`` BT,. Untuk mencapai lokasi penelitian dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut :
  1. Ternate - Sofifi
Ternate – Sofifi dengan menggunakan speed boat dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam atau dengan menggunakan fery dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.
  1. Sofifi – Wasile
Sofifi – wasile ditempuh dengan menggunakan jalan darat  kendaraan roda dua ataupun roda empat dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.
  1. Wasile – PT. INDO BUMI NICKEL
Wasile ke PT. INDO BUMI NICKEL dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh ± 10 menit.
Dari Sofifi ke lokasi penelitian Bisa juga dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua langsung ke lokasi penelitian dengan waktu yang ditempuh +6 jam dari sofifi.


Text Box: Lokasi PenelitianGambar 2.1  Lokasi Daerah Penelitian

2.2.Geologi Regional Pulau Halmahera Timur
2.2.1. Topografi
Lokasi penelitian terdiri dari beberapa punggungan yang dipisahkan oleh alur. Topografi landai terdapat pada puncak perbukitan. Kemiringan lerang semakin terjal apabila mendekati garis daerah pantai. Di sekitar daerah pantai sampai ke garis pantai topografi sudah sangat landai. Di dekat punggungan kemiringan lereng bervariasi mulai dari 0 - 45°, sedangkan kemiringan lereng pada daerah yang mendekati pantai bervariasi antara 45 - 80°. Pada daerah di sekitar garis pantai kemiringan lereng di bawah 10°.
2.2.2.      Stratigrafi
Menurut Apandi & Sudana (1980), Pulau Halmahera dibagi menjadi 2 (dua) mendala geologi utama, yaitu: mendala geologi Halmahera Timur dan mendala geologi Halmahera Barat. Mendala geologi Halmahera Timur terbentuk oleh satuan batuan ultrabasa yang sebarannya cukup luas dan satuan batuan beku yang mengintrusi satuan batuan ultrabasa serta batuan beku intermediate yang mengintrusi kedua satuan batuan sebelumnya.
Setelah rumpang pengendapan Eosen Akhir hingga Oligosen Awal kegiatan gunung api terjadi selama Oligosen Atas – Miosen Bawah. Batuan gunung api formasi Bacan ini terhampar luas di mendala Halmahera Timur dan mendala Halmahera Barat, bersamaan dengan itu terbentuk pula batuan karbonat. Terdapat cekungan yang cukup luas berkembang sejak Miosen Atas – Pliosen, dimana di dalam cekungan tersebut terdapat batupasir berselingan dengan napal, tufa, konglomerat yang membentuk formasi Weda dan batuan karbonat yang membentuk Formasi Tingteng. Pada zaman terjadi pengangkatan sebagaimana yang ditunjukan oleh batugamping terumbu di pantai daerah lengan Timur  Pulau Halmahera.
Batuan tertua yang terdapat di mendala Halmahera Barat berupa gunung api berumur Oligo-Miosen, di daerah ini terdapat batuan sedimen dan karbonat berumur Miosen – Pliosen yang sebarannya cukup luas. Pada umumnya batuan sedimen pada mendala ini bersifat tufaan.
Batuan Sedimen
Satuan Batugamping
Berwarna putih dan kelabu, umumnya pejal, setempat berlapis baik mengandung fosil Discocyclina spb., Amphistegina sp, dan koral. Ketebalan formasi ini ± 400m dan berumur Paleosen – Eosen.
Batupasir berselingan dengan serpih merah dan batugamping. Batupasir berwarna kelabu, kuning, kompak, dan berbutir halus. Batugamping berwarna kelabu, kompak, berkomponen batuan ultrabasa. Serpih berwarna merah berlapis baik. Batugamping mengandung fosil Nummulites sp. Formasi ini memiliki ketebalan ± 250 m dan berumur Paleosen – Eosen.
Formasi Tingteng (Tmpt)
Tersusun oleh batugamping hablur dan batugamping pasiran dengan sisipan napal dan batupasir. Batugamping hablur, putih kekuningan, dan coklat muda, berlapis baik. Batugamping pasiran, kelabu, dan coklat muda, sebagian kompak. Ketebalan formasi ini ± 600 m berumur Akhir Miosen – Awal Pliosen. Setelah pengendapan Formasi Tingteng terjadi pengangkatan pada umur Kuarter, sebagaimana ditunjukan oleh batugamping terumbu di pantai lengan Timur Pulau Halmahera.
Formasi Weda (Tmpw)
Terdapat batupasir berselingan dengan napal, tufa, konglomerat, dan batu gamping. Batupasir kelabu sampai coklat muda, kompak, berbutir halus sampai kasar. Napal berwarna putih, kelabu kehijauan, dan coklat, getas. Tufa berwarna putih dan kuning, getas, berbutir halus sampai kasar, dan berlapis baik. Konglomerat berwarna kelabu dan coklat, kompak, berkomponen andesit piroksen. Ketebalan formasi ini ± 300 m dan berumur Miosen Tengah – Awal Pliosen, diendapkan pada lingkungan neritik – batial.
Batugamping Terumbu (Ql)
Batugamping koral dan breksi batugamping. Batugamping koral berwarna putih dan coklat, sebagian kompak, bagian yang paling bawah mengandung konglomerat berkomponen batuan ultrabasa, gabro, dan diorit. Breksi batugamping, coklat, sebagian padat. Ketebalan satuan batuan ini ± 150 m.
Endapan Permukaan
Aluvium dan Endapan pantai (Qa)
Terdapat lempung, lanau, pasir, dan kerikil. Pada umumnya terdapat di lembah sungai yang besar dan di beberapa daerah sepanjang pantai.
Batuan Gunung Api
Formasi Kayasa (Qpk)
Berupa batuan gunung api yang terdiri dari breksi, lava, dan tufa. Breksi berwarna kelabu tua, kompak, bersusunan basalt dengan masa dasar pasir dan banyak mengandung piroksen. Lava bersifat basalt, berwarna kelabu tua, setempat berkekar melapis. Tufa berwarna putih kekuningan, kompak, berbutir sedang sampai kasar, setempat mengandung batuapung. Formasi ini berumur Pliosen.
BatuanBeku
Batuan Ultrabasa (Ub)
Batuan ultrabasa berupa serpentinit, piroksenit, dan dunit, berwarna hitam, getas, kebanyakan pecah, terbreksikan, setempat mengandung asbes dan garnierit. Satuan ini dinamakan Formasi Watileo.
Diorit (Di)
Diorit kuarsa dan diorite hornblende tersingkap di daerah komplek batuan ultrabasa.
Description: C:\Users\khomsun arifin\Documents\IPIN.jpg
Gambar 2.2 Peta geologi regional daerah penelitian
2.2.3. Vegetasi
Secara umum vegetasi yang tumbuh di lokasi penelitian adalah relatif sama dengan vegetasi yang tumbuh di Halmahera dan sekitarnya. Jika dilihat secara vertikal komunitas vegetasi yang tumbuh di daerah penelitian dapat dibagi dalam tiga komunitas, yakni komunitas  vegetasi hutan pantai, komunitas hutan mangrove (bakau) yaitu daerah endapan lumpur dan pasir, serta komunitas vegetasi hutan daratan (pegunungan) yaitu pada kondisi tanah yang banyak mengandung mineral logam seperti Al dan Ni.
Vegetasi hutan pantai menempati hampir seluruh garis pantai daerah penelitian, vegetasi yang ada merupakan asosiasi pohon ketapang, pandan, kelapa dan nyamplung. Pohon kelapa cukup dominan dikawasan ini, hanya pada tempat-tempat tertentu yang tidak memungkinkan dibudidayakan tanaman kelapa, ditumbuhi tanaman ketapang, pandan dan nyamplung.
Komunitas vegetasi daerah mangrove terdiri dari tumbuhan bakau jenis rhizopora stylosa, rhizopora mucranata, bruguiera sp, dan xylocarpus granatum. Sedangkan vegetasi hutan daratan (pegunungan) disusun oleh sebagian vegetasi yang ada di Pulau  Halmahera dan sekitarnya. Pada bagian punggungan gunung, vegetasi yang ada merupakan asosiasi jenis tumbuh-tumbuhan berdaun jarumseperti gaharu, linggua, kayu kina, bintang samudra, kenari hutan, kayubesi, bintagor, cemara, pinus Irian, dan sebagian kecil tumbuhan yang berdaun lebar. Pada vegetasi ini juga terdapat tumbuhan bawah yang terdiri dari tanaman pandan, rumput-rumputan, alang-alang, dan sejenis liana daun lebar.
Tumbuhan bawah yakni tumbuhan tidak berkayu merupakan salah satu tumbuhan penyusun vegetasi kawasan ini juga dibedakan menjadi dua bagian. Pada daerah punggungan gunung, tumbuhan bawah yang hidup adalah jenis pakis, pinang, kantong semar, anggrek, dan bunga delima. Sedangkan pada daerah yang lembab, tumbuhan bawah yang hidup adalah rotan, pandan hutan, jenis anggrek pinang, dan sebagian jenis rumput-rumputan.
Description: E:\SKRIPSI IPIN\documentasi lereng\Foto-0238.jpg
Gambar 2.3. vegetasi lokasi penelitian
2.3.       Iklim Dan Curah Hujan
Daerah penelitian terletak di daerah garis khatulistiwa yang beriklim tropis dengan 2 (dua) musim yaitu musim hujan dan kemarau. Suhu udara sangat panas di siang hari karena daerah ini sangat berdekatan dengan laut. Temperatur udara rata-rata  28 oC dan kelembaban udara rata-rata 82.5 % serta intensitas penyinaran matahari rata-rata 61.3%. Kecepatan angin per-jam maksimal 17 knot dengan tinggi gelombang laut maksimal 2 m, terjadi pada waktu angin bertiup dari arah barat ke arah timur.
Tabel 2. 1. curah hujan





NO
HARI
TANGGAL
JAM HUJAN ( WIT )
VOLUME
JAM
KETERANGAN
GERIMIS
DERAS
mm/m2
PENGUKURAN
CHECKER
1
SELASA
01-April-14
15:00-16:00

4,00
7:00:00
SEA
2
KAMIS
03-April-14

15:30-16:00
11,00
16:30:00
SEA
3
JUMAT
04-April-14

14:15-15:00
4,00
16:30:00
SEA
4
SABTU
05-april-14

15:20-16:00
5,50
16:05:00
SEA
5
 MINGGU
06-april14 

21:15-22:00
20,50
8:00:00
SEA
6
SENIN
07-april-14
15:30-17:00

3,50
7:00:00
SEA
7
RABU
09-april-14

12:30-14:55
25,00
7:00:00
M.YAMIN
8
KAMIS
10-april-14
14:00-15:00

6,00
16:30:00
M.YAMIN
9
JUMAT
11-april-14

04:30-05:15
8,00
7:00:00
M.YAMIN
10
SABTU
12-april-14

04:00-05:00
5,50
7:15:00
M.YAMIN
11
 SENIN
 14-april14
21:00-22:30

4,00
23:00:00
SEA
12
SELASA
15-april-14

16:10-17:00
25,00
17:00:00
M.YAMIN
13
 RABU
 16-april14
17:15-18:10

2,00
7:00:00
SEA
14
SABTU
19-april-14
10:30-12:00

4,50
14:00:00
SEA
15
JUMATMJM
20-april-14
15:35-16:10

3,50
16:50:00
SEA
16
 SENIN
21-april14 

16:30-17:00
18,50
8:30:00
SEA
17
SELASA
22-april-14

13:30-15:20
13,00
16:00:00
SEA
18
RABU
23-april-14

02:00-02:30
9,50
8:00:00
SEA
19
KAMIS
24-april-14
05:30-06:00

2,50
9:00:00
SEA
20
MINGGU
27-april-14

22:15-23:30
20,00
7:00:00
SEA
21
SENIN
28-april-14

04:15-04:50
4,50
7:00:00
SEA
22
RABU
30-april-14
03:30-12:00

8,50
7:00:00
SEA
Rata-rata

9.48



Maximal

25.00










PT. INDO BUMI NICKEL
:  TGL 01-30 April 2014












Tidak ada komentar:

Posting Komentar